TRADISI PERAYAAN HARI RAYA NYEPI DI KOTA SOLO DAN SEKITARNYA

Menjelang hari raya Nyepi yang jatuh pada tanggal 17 Maret 2018, sejumlah masyarakat yang beragama Hindu mulai sibuk mempersiapkan upacara keagamaan. Meskipun agama Hindu identik dengan Pulau Dewata, Bali ternyata kita tidak perlu jauh-jauh ke Bali untuk mengetahui lebih jauh prosesi hari Raya umat Hindu tersebut. Khususnya di kota Solo, anda juga bisa melihat prosesi ini. Berikut tempat-tempat di sekitar Solo yang sering digelar upacara adat menjelang perayaan Nyepi.

  1. Tradisi Mendak Tirta di Boyolali

Upacara mencari amerta atau air kehidupan untuk menyucikan jiwa ini, dilakukan di kompleks Umbul Ngabean. Sebelumnya, umat Hindu menggelar acara kirab dari Pura Buana Suci Saraswati di Banyudono, menuju lokasi mata air Ngabean secara khusyuk. Dengan membawa sejumlah sesaji dan dua gunungan dari makanan tradisional yang dinamakan gunungan Lanang dan Gunungan Wadon. Air yang sudah diambil akan dibawa ke Candi Ratu Boko, Prambanan untuk disatukan dengan amerta dari daerah lain dalam Upacara Mecarau atau doa bersama menjelang Nyepi.

  1. Upacara Melasti di Telaga Madirda, Karanganyar

Upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri dari dosa sebelum merayakan Nyepi. Dalam upacara ini, seluruh umat Hindu mengenakan pakaian serba putih. Upacara diawali dengan peletakan sesaji di sebuah meja panjang. Dan saat upacara dimulai, umat Hindu duduk bersila menghadap ke timur atau Telaga Madirda. Selesai berdoa, para pemuka agama Hindu berjalan ke tempat yang dianggap suci di sekitar Telaga Madirda. Mereka membunyikan lonceng serta kidung puji-pujian sambil menciprati air suci ke tempat-tempat yang dianggap suci tersebut. Selain itu, para pemuka agama juga memercikkan air ke kepala umat Hindu yang mengikuti upacara ini. Beberapa butir beras juga di tempelkan di dahi dan pelipis. Sesaji yang dibawa kemudian dilarung ke Telaga Madirda sebagai simbol membuang jauh kotoran.

  1. Catur Brata di Kemuning, Karanganyar

Catur Brata merupakan puncak dari perayaan Nyepi. Yaitu tidak melakukan pekerjaan,tidak menyalakan api, tidak berpergian, dan tidak bersenang-senang. Sebagian umat Hindu di dusun Jlono, Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar, memusatkan aktivitas Catur Brata di Pura Jonggol Santiloka. Selain di Pura, sebagian juga melaksanakan Catur Brata di rumah masing-masing. Menariknya, toleransi disini sangat terasa. Sebagian warga dusun yang tidak merayakan Nyepi, bahkan turut menjaga suasana agar kondusif. Sehingga warga yang sedang melaksanakan Catur Brata dapat lebih khusyuk.

  1. Upacara Melasti di Klaten

Upacara Melasti juga berlangsung di Klaten. Tepatnya di Umbul Geneng, desa Ngerundel, kecamatan Kebonarum, Klaten. Prosesi diawali dengan sembahayang bersama di Pura Tirta Buana, di desa Pluneng, kecamatan Kebonarum, Klaten. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi kirab dengan puluhan gunungan dan parade music ganjur ke Umbul Geneng.

  1. Ogoh-ogoh di Boyolali

Ogoh-ogoh merupakan salah satu rangkaian perayaan Nyepi. Ogoh-ogoh juga dipersiapkan di Boyolali. Tepatnya di desa Karanganyar, Kecamatan Musuk. Ogoh-ogoh ini dibuat di Pura Buana Puja di desa setempat. Dengan utjuan sebagai simbol raksasa atau kejahatan. Dan kejahatan wajib dikendalikan oleh manusia. Acara diawali dengan upacara Bhuta Yadnya. Setelah itu berbagai sesaji diletakkan di perempatan desa setempat. Selanjutnya ogoh-ogoh diarak oleh umat Hindu mengelilingi Dukuh Tagung Gede dan Wonodadi, desa Karanganyar. Dan berakhir di lapangan setempat dan kemudian di bakar.

Demikian prosesi perayaan menjelang Nyepi yang dapat anda saksikan di sekitar Solo. Selamat merayakan hari raya Nyepi untuk seluruh umat Hindu.