Review Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Judul                     : Ronggeng Dukuh Paruk

Penulis                 : Ahmad Tohari

Penerbit              : Gramedia

Terbit                    : 1982, 2003, 2009, 2011

Halaman              : 397

Cover                    : Soft Cover

Dukuh Paruk adalah perdukuhan kecil yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dukuh ini gersang, miskin dan sepi tak banyak penduduknya, apalagi setelah bencana tempe bongkrek yang merenggut banyak nyawa di Paruk, beberapa tahun silam. Keadaan dukuh Paruk mulai menggeliat lagi setelah munculnya Srinthil yang dinobatkan sebagai Ronggeng baru di dukuhnya. Paruk kembali hidup terlihat dari rona-rona cerah wajah penghuninya, menyambut kembalinya bunyi alunan calung yang mengiringi tarian seorang dewi cantik, titisan indang leluhur para Ronggeng. Srinthil sang penari Ronggeng mulai terkenal. Orang-orang  memandanginya dengan kagum sebagai titisan Indang, memandangi iri karena kecantikan dan gemuai tarinya, banyak pula yang memandang penuh nafsu,ingin merasakan liat tubuh ronggeng muda tersebut. Adalah Rasus yang kini hanya bisa memandanginya dari kejahuan. Rasus yang adalah teman sepermainan sekaligus sosok cinta dan hasrat muda dari seorang Srinthil, harus menyingkir sebagai akibat ketenaran penari Ronggeg tersebut

Jurang antara Srinthil dan Rasus makin menganga lebar ketika disuatu masa, Perdukuhan Paruk terkena imbas politik entah apa, entah dari mana. Tahun 1965, semua kemeriahan pesta, rancaknya calung dan lenggok cabul Ronggeng di Paruk menjadi sirna, sirna bersama kobaran api yang menghanguskan dukuh tersebut. Namun, apakah segala peristiwa kelam itu berhasil juga membumi hanguskan cinta di antara Rasus dan Srinthil? Apakah keadaan zaman yang menyeret mereka ke dalam dua kubu yang berbeda, akan menghalangi rasa yang ada di hati mereka?

Ahmad Tohari, penulis kelahiran Banyumas Jawa Tengah, sangat lihai melukiskan Dukuh Paruk, lengkap dengan segala suasana, alam, budaya, permitosan dan karakter orang-orang yang tinggal di dalamnya. Di awal bagian novel, suasana Paruk dihadirkan dengan ringan tapi lengkap, langsung menyeret benak pembaca untuk berkeliling maya di desa gersang bernama Paruk. Satu-persatu konflik mulai di munculkan dengan apik, disajikan dengan penuh tragedy, namun kadang diselipi sedikit humor. Banyak budaya-budaya khas daerah perbatasan yang mungkin sekarang sudah punah, disajikan secara detail dalam Novel ini, sehingga memancing pembaca untuk lebih mendalami dan mempelajarinya kembali. Tidak hanya asmara dan sensualitas, Ronggeng Dukuh Paruk ini menggambarkan dengan lengkap sekaligus elok tentang peristiwa sejarah, tentang filosofi sensualitas di masyarakat perbatasan Jawa, tentang ritus budaya dan sosilogi masyarakat yang melingkupinya, dan tentunya, tentang keindahan Tari Ronggeng  dengan segala pernik kisah yang menyertainya.