Makanan Khas Imlek Yang Siap Menggoyang Lidah

Bagi masyarakat Tionghoa, Imlek adalah salah satu perayaan akbar yang paling ditunggu setiap tahunnya. Imlek, sesungguhnya adalah perayaan menyambut musim semi yang berkaitan erat dengan prinsip kemakmuran. Gaung kemeriahan imlek biasanya sudah mulai terasa sejak satu minggu sebelum hari perayaan. Serangkaian ritual dan adat kebiasaan yang sifatnya turun temurun pun turut mewarnai persiapan perayaan. Uniknya, dalam tradisi masyarakat Tionghoa, simbol dan makna perayaan bukan hanya diterjemahkan melalui sembahyang, melainkan juga melalui ragam kuliner atau makanan khas. Lalu makanan khas Imlek apa saja yang wajib ada ketika hari perayaan, dan apa pula maknanya? Simak ulasan berikut ini.

  1. Kue Keranjang

Sesuai tradisi, perayaan Imlek tidak akan lengkap tanpa kue keranjang atau Nian Gao. Kata Nian berarti “tahun”, sementara Gao berarti “kue” dan juga terdengar seperti “tinggi”. Inilah mengapa kue keranjang biasanya disajikan dengan cara disusun tinggi atau bertingkat, dan semakin mengecil di bagian atasnya. Ini merupakan perlambang peningkatan rezeki atau kemakmuran. Kue keranjang juga kerap disusun dengan kue mangkok berwarna merah di atasnya. Ini melambangkan kehidupan yang manis dan semakin menanjak semakin merekah seperti kue mangkok.

  1. Mie goreng/Mie Panjang Umur.

Mie goreng memiliki peranan penting di setiap acara adat Tiongkok. Tak hanya di acara ulang tahun saja mie goreng juga hidangan wajib yang hadir saat Imlek. Masyarakat Tionghoa meyakini bahwa sajian Mie – terutama Siu Mie/Shou Mian yang berarti “mie panjang umur” harus dihidangkan tanpa putus dari ujung awal hingga ke ujung akhir. Dengan demikian, diharapkan orang yang menyantapnya akan berumur panjang, dilimpahkan kebahagiaan, dan rezeki.

  1. Ayam, Ikan, dan Babi

Tiga hewan berdaging yang kerap muncul di perayaan Tahun Baru Imlek adalah ayam, ikan, dan babi. Pemilihan tiga hewan ini tentunya bukan tanpa alasan. Masyarakat Tionghoa meyakini bahwa ketiganya harus ada di sajian kuliner Imlek, agar masyarakat yang menyantapnya tidak meniru sifat ketiga hewan tersebut. Babi, dilambangkan sebagai hewan yang malas. Ayam, dilambangkan sebagai hewan yang serakah karena kebiasaannya berpindah tempat ketika makanannya belum habis. Sementara ikan sendiri mengandung dualisme makna. Di satu sisi, kulitnya yang bersisik kerap disandingkan dengan ular yang jahat. Namun di sisi lain, ikan juga dilambangkan sebagai rezeki dan keberuntungan. Seluruh hidangan ayam dan ikan harus disajikan secara utuh sebagai simbol keutuhan dan kemakmuran yang berlimpah.

  1. Telur yang direbus dengan The.

Sajian yang paling khas ini juga tidak pernah absen saat Imlek. Telur yang direbus dengan teh dipercaya sebagai simbol kesuburan. Sebagai variasi, campuran kecap asin, kayu manis dan lada hitam juga bisa dibubuhkan masyarakat di Cina ke dalam air rebusan teh. Selain aroma telur akan menjadi harum, rasanya pun akan menjadi sedikit lebih asin karena efek kecap asin yang meresap ke dalam telur.

  1. Jiaozi.

Jiaozi merupakan makanan yang bentuknya mirip dengan pangsit yang ada di dim sum. Makanan yang juga dikenal dengan nama Kuo Tie ini biasa disajikan sebagai makanan pembuka atau camilan. Jiaozi merupakan makanan penting dalam tradisi kuliner masyarakat Tionghoa, karena kerap disantap bersama dengan keluarga besar dan melambangkan kebersamaan. Pada umumnya, di malam Imlek seluruh keluarga akan berkumpul dan memakan Jiaozi yang dibentuk bulat, sebagai harapan akan kemakmuran dan kesejahteraan. Secara simbolik, bentuknya yang bulat mirip dengan uang China kuno dan juga dijadikan perlambang kelimpahan rezeki.

  1. Manisan Segi Delapan.

Sesuai namanya, dalam satu wadah terdapat delapan bagian yang masing-masing diisi dengan manisan yang berbeda-beda. Manisan segi delapan ini dikenal sebagai “tray of happines”. Tentu dengan namanya manisan segi delapan mengandung banyak makna, misalnya biji teratai yang melambangkan kesuburan dan leci sebagai lambang keluarga yang kuat. Selain itu angka delapan juga menjadi angka keberuntungan yang dipercayai oleh orang Tionghoa. Warga Tionghoa percaya bahwa angka tertentu bisa membawa keberuntungan bagi seseorang. Itulah mengapa tradisi menghidangkan manisan segi delapan menjadi salah satu yang wajib dilakukan saat perayaan Tahun Baru Imlek.

  1. Jeruk

Buah yang satu ini juga menjadi buah yang penting selama perayaan Imlek. Masyakarat Tionghoa sangat senang makan jeruk, terutema yang berwarna kuning, karena buah yang satu ini merupakan perlambang kemakmuran dan kekayaan yang selalu bertumbuh. Inilah mengapa jeruk yang disajikan di kala perayaan Imlek sebisa mungkin masih memiliki daun di tangkainya. Daun sendiri menandakan adanya kehidupan dan kesejahteraan.

Ternyata, banyak sekali ya makna dibalik makanan khas imlek. Semoga di Imlek tahun ini semakin berlimpah rejeki dan keberuntungan!

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPrint this pageEmail this to someonePin on Pinterest


LEAVE A COMMENT